Rangkasbitung, (BantenKita) – Pemerintah Kabupaten Lebak berkomitmen mempertahankan status lumbung pangan di Provinsi Banten dengan mengoptimalkan 16 embung untuk mengaliri di areal persawahan dataran tinggi.

“Kita bekerja keras untuk membangun daerah lumbung pangan dengan mengoptimalkan embung-embung itu,” kata Penjabat Bupati Lebak Iwan Kurniawan di Rangkasbitung, Lebak, Jumat.

Pemerintah Kabupaten Lebak memiliki program pengendalian banjir karena topografi alamnya perbukitan, pegunungan dan aliran sungai sehingga rawan terjadi longsoran tanah.

Saat ini, curah hujan cukup tinggi sehingga banyak lokasi yang terdampak bencana alam.

Karena itu, program pengendalian banjir dengan membangun dan mengoptimalkan 16 titik embung untuk menampung air hujan dan bisa mengaliri areal persawahan di dataran tinggi.

“Kami meyakini bahwa Lebak bisa mempertahankan sebagai daerah lumbung pangan di Banten melalui kebijakan pemerintah setempat,” kata Pj Bupati Lebak.

Bupati mengatakan Kabupaten Lebak juga menyediakan pangan untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat hingga Lampung.

Selama ini, sektor usaha pertanian pangan memberikan multiefek besar untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat mulai petani, pemetik, buruh panggul, tengkulak, pengemudi hingga pedagang pengecer.

Wilayah Kabupaten Lebak masuk daerah lumbung pangan di Banten dengan tanam seluas 102.868 hektare dengan tiga kali musim panen padi selama setahun. 

“Kami melihat usaha sektor pertanian pangan yang besar menyumbangkan pendapatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar mengatakan bahwa daerah ini bisa mempertahankan daerah lumbung pangan, karena potensi lahan tersedia sudah dilindungi dengan adanya Peraturan Daerah (Perda).

Dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) bahwa penduduk Kabupaten Lebak sebagian besar petani dan banyak potensi lainnya.

Pemerintah daerah menargetkan produksi pangan 2024 sebanyak 512.951 ton gabah kering dengan tanam seluas 102.868 hektare dan luas sawah baku 51.297 hektare.

“Kami optimistis Lebak bisa mempertahankan lumbung pangan,” kata Deni Iskandar.

Karena itu, program pengendalian banjir dengan membangun dan mengoptimalkan 16 titik embung untuk menampung air hujan dan bisa mengaliri areal persawahan di dataran tinggi.

“Kami meyakini bahwa Lebak bisa mempertahankan sebagai daerah lumbung pangan di Banten melalui kebijakan pemerintah setempat,” kata Pj Bupati Lebak.

Bupati mengatakan Kabupaten Lebak juga menyediakan pangan untuk wilayah Jakarta, Jawa Barat hingga Lampung.

Selama ini, sektor usaha pertanian pangan memberikan multiefek besar untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat mulai petani, pemetik, buruh panggul, tengkulak, pengemudi hingga pedagang pengecer.

Wilayah Kabupaten Lebak masuk daerah lumbung pangan di Banten dengan tanam seluas 102.868 hektare dengan tiga kali musim panen padi selama setahun. 

“Kami melihat usaha sektor pertanian pangan yang besar menyumbangkan pendapatan ekonomi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Deni Iskandar mengatakan bahwa daerah ini bisa mempertahankan daerah lumbung pangan, karena potensi lahan tersedia sudah dilindungi dengan adanya Peraturan Daerah (Perda).

Dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) bahwa penduduk Kabupaten Lebak sebagian besar petani dan banyak potensi lainnya.

Pemerintah daerah menargetkan produksi pangan 2024 sebanyak 512.951 ton gabah kering dengan tanam seluas 102.868 hektare dan luas sawah baku 51.297 hektare.

“Kami optimistis Lebak bisa mempertahankan lumbung pangan,” kata Deni Iskandar. (Man/Ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *