Bocah Papua Lebih Bijak dari Elite: Ketika Alam Dijaga Anak, Dirusak Orang Dewasa, Oleh: Joko Sutopo

Sebuah video singkat tentang bocah Papua yang bermain di pinggir hutan hujan tropis tiba-tiba menampar kesadaran kita. Di saat para elite sibuk berbicara pembangunan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi, seorang anak justru menunjukkan kebijaksanaan ekologis yang sering hilang dari ruang-ruang kekuasaan. Tanpa teori, tanpa jargon, bocah itu mengajarkan satu hal mendasar: alam bukan untuk dirusak, melainkan…

Ketika Taman Bacaan Masyarakat Menjadi Ruang Aman dan Tempat Anak Bertumbuh oleh Isnaeni Hanifah *)

Selama ini, taman bacaan masyarakat (TBM) sering dipahami sebatas tempat membaca buku atau belajar menulis. Pemahaman ini memang tidak sepenuhnya keliru, tetapi belum menggambarkan peran TBM secara menyeluruh. Jika dilihat lebih dekat, terutama dari praktik di lapangan, TBM justru berkembang menjadi ruang dengan fungsi yang jauh lebih luas. TBM tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi…

Apakah Kota dan Kabupaten Serang Mengalami Krisis Buku? Oleh: Tiara Rizki Mahendra *)

Kita semua mengetahui bahwa buku merupakan senjata utama dalam dunia pendidikan. Bahkan, sastrawan dunia Leo Tolstoy pernah mengatakan bahwa “buku adalah guru sunyi kebijaksanaan.” Berangkat dari pandangan tersebut, sudah sepantasnya buku menjadi kebutuhan primer yang keberadaannya mudah dijumpai di mana pun. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Di Kota maupun Kabupaten Serang, keberadaan…

Scroll ke Skill Jadi Tren Pembelajaran Digital dan Personal Branding

Tren scroll ke skill kini menjadi fenomena yang mendorong perubahan perilaku belajar masyarakat. Istilah scroll ke skill muncul karena semakin banyak pengguna media sosial yang menggunakan aktivitas scroll sebagai sarana menambah pengetahuan dan kemampuan. Perubahan ini terutama terlihat pada generasi muda yang semakin aktif mencari konten edukatif. Di era digital, platform seperti TikTok, Instagram, YouTube,…

PWI, Fitnah, dan Pertarungan Hendry Ch Bangun vs Akhmad Munir

Opini Oleh: Junaidi Rusli Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sedang menghadapi ujian besar. Dua tokoh, Hendry Ch Bangun (HCB) dan Akhmad Munir, kini menjadi poros utama dalam Kongres Dipercepat PWI. Hendry sebelumnya digempur isu korupsi dana hibah BUMN. Tuduhan ini bahkan dijadikan bahan manuver oleh kelompok Kongres Luar Biasa (KLB) yang dipimpin Zulmansyah Sekedang dan didukung…

Sekolah Gratis Menawarkan Akses Dan Kualitas Yang Setara, Bukan Hanya Nol Rupiah Oleh Natasya Jazkia *)

Program sekolah gratis telah berkembang menjadi janji politik populer yang menarik bagi masyarakat. Di atas kertas, semangatnya jelas: memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan gratis. Namun, di lapangan, kita harus mengakui bahwa “gratis” sering kali lebih mengacu pada jumlah daripadakesetaraan dan kualitas akses. Apakah kata “gratis” cukup tepat untuk menggambarkan sekolah,…

Daerah Otonomi Baru dan Krisis Budaya Lokal: Pemekaran, Tapi Kehilangan Akar? Oleh Muhammad Ferryl Irawan *)

Pemekaran wilayah atau pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) sering digadang sebagai langkah strategis untuk memajukan daerah. Pemerintah berharap, dengan daerah yang lebih kecil dan fokus, layanan publik akan lebih cepat, pembangunan lebih merata, dan masyarakat bisa lebih sejahtera. Namun, di balik janji manis itu, ada pertanyaan besar yang jarang dibahas: bagaimana nasib identitas budaya lokal…

Menguatkan Peran Serikat Buruh Dalam Kesejahteraan Pekerja: Momentum Dan Makna May Day Oleh Rayhan Kurnia *)

Setiap tanggal 1 Mei, pekerja di seluruh dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day. Di Indonesia, momen ini tak hanya menjadi simbol solidaritas buruh, tetapi juga menjadi ruang untukmenyuarakan aspirasi dan ketimpangan yang masih dirasakan oleh kelas pekerja. Salah satu aktor utama dalam perjuangan ini adalah serikat buruh. Namun, pertanyaannya: sejauh mana peran serikat…

Buzzer Politik Dan Ancaman Terhadap Kebebasan Berekspresi Di Era Digital Oleh Dea Yohanna *)

Di era digital yang semakin maju, buzzer politik telah menjadi fenomena yang tak terelakkan dalam lanskap demokrasi Indonesia. Mereka hadir sebagai aktor baru yang memainkan peran signifikan dalam membentuk opini publik, namun sekaligus menimbulkan ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi. Buzzer politik, yang seharusnya menjadi bagian dari dinamika demokrasi, justru sering kali berubah menjadi alat propaganda…

Buzzer Politik Gen Z: Antara Kesadaran Politik dan Komodifikasi Opini Oleh Lenggana Faiza Nugraha*)

Di era digital yang kian terhubung, suara anak muda, terutama Generasi Z, menjadi kekuatan baru dalam percaturan politik Indonesia. Namun, suara ini tak selalu lahir dari kesadaran politik yang murni. Dalam praktiknya, banyak dari mereka justru menjelma menjadi buzzer politik individu atau kelompok yang dibayar untuk menyebarkan opini dan narasi tertentu di media sosial, yang…

Ketika Semua Partai Masuk Pemerintah, Siapa yang Akan Mengawasi Kekuasaan ? Oleh Fitrianingsih *)

Pemilu 2024 telah berakhir, namun dinamika politik Indonesia masih bergolak di tengah proses konsolidasi kekuasaan. Koalisi Indonesia Maju Plus, gabungan partai yang mendukung presiden terpilih, mendominasi DPR, dengan 470 kursi (sekitar 81% dari 580 kursi), sedangkan satu-satunya partai besar di luar koalisi, PDI Perjuangan, hanya memiliki 110 kursi (19%) (Suryaningtyas, 2025). Kondisi ini membangkitkan kekhawatiran…

Birokrasi 4.0 di Banten, Tantangan Partisipasi Publik dan Ruang Inovasi bagi Gen Z Oleh Puan Nayla *)

Transformasi digital telah menjadi keniscayaan, mendorong berbagai sektor untuk beradaptasi, tak terkecuali birokrasi pemerintahan. Di era industri 4.0, konsep Birokrasi 4.0 menyeruak sebagai paradigma baru yang menjanjikan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel melalui pemanfaatan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan big data. Provinsi Banten, dengan potensi demografi muda yang besar, tentu tidak ingin…